Kisah Para Rasul 2:1-18
Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka penuhlah mereka dengan Roh Kudus, lalu mereka mulai berkata-kata dalam bahasa-bahasa lain, seperti yang diberikan oleh Roh itu kepada mereka untuk mengatakannya. (ay. 2-4)
Jika hidup pengikut Kristus telah didiami Roh, mengapa masih harus dipenuhi oleh Roh? Apa berkat yang akan kita peroleh bila “penuh Roh”? Apakah tandanya orang yang dipenuhi Roh Kudus?
Apakah kita menangkap suatu persamaan kontras tentang isu “kepenuhan Roh Kudus” ini? Pada hari pencurahan Roh Kudus para murid dituduh mabuk anggur.
Itu sebabnya di awal khotbahnya, Petrus menjernihkan bahwa tuduhan itu tidak logis. Mereka bukan mabuk anggur tetapi sedang penuh dengan Roh!
Dalam anjuran Paulus agar pengikut Kristus penuh Roh, ia lebih dulu mengingatkan mereka agar jangan mabuk anggur. Apakah ini suatu kebetulan saja, atau memang ada sesuatu dari kepenuhan Roh yang bisa dikontraskan dengan mabuk/penuh anggur ini?
Ada dua persamaan kontras antara penuh/mabuk anggur dengan penuh Roh. Pertama, penuh oleh sesuatu berarti dikuasai oleh sesuatu. Penuh anggur, dikuasai oleh anggur, maka timbullah gejala mabuk.
Penuh benci, dikuasai hasrat benci yang menggelegak walau tak usah membunuh secara jasmani pun dalam hati orang telah meniadakan orang yang tidak disukainya.
Sebaliknya orang yang penuh oleh Roh akan dikuasai oleh Roh sehingga menghasilkan hal-hal yang serasi dengan sifat Roh.
Hasilnya adalah buah Roh yaitu pancaran keindahan dan kemuliaan sifat Allah dalam sembilan fasetnya. Agar dapat memancarkan keindahan buah Roh itu, kita harus dikendalikan penuh oleh Roh!
Kedua, kontras. Orang yang penuh anggur akan meledak-ledak dengan ungkapan sia-sia. Misalnya, berteriak tanpa kontrol, tertawa tanpa malu, dan sebagainya.
Pada hari Pentakosta para murid pun meledak-ledak, mereka berbicara dalam berbagai bahasa yang sebelumnya tidak mereka kuasai.
Orang yang tidak tahu sebabnya menuduh mereka telah mabuk anggur. Padahal sesungguhnya Roh di dalam merekalah yang telah melahirkan daya dahsyat itu sehingga ucapan mereka efektif menjangkau para pendengar dari berbagai konteks bahasa berbeda.
Kuasa Roh Kudus
Pentakosta berasal dari bahasa Yunani pentekoste, yang berarti “hari kelima puluh”. Hari raya ini memperingati peristiwa turunnya Roh Kudus atas para rasul di Yerusalem, yang terjadi 50 hari setelah Hari Raya Paskah. Peristiwa ini juga sering disebut sebagai hari lahirnya Gereja.
Alkisah, ada seorang pendeta yang sedang berputus asa. Meski ia tak kenal lelah dalam berdoa dan bekerja keras, tetapi gerejanya tetap kecil.
Sementara itu, sebuah jemaat baru di dekat situ dalam waktu singkat telah berkembang menjadi gereja besar.
Namun bila memikirkan para pecandu alkohol dan obat-obat terlarang serta orang-orang yang hidup tak bermoral secara seksual, yang telah ia bimbing kepada Juruselamat dan jalan hidup yang baru, maka tak pelak lagi ia adalah seorang saksi yang diperlengkapi Roh Kudus.
Sejak apa yang terjadi pada hari Pentakosta seperti bacaan kita di atas, kita cenderung menghubung-hubungkan kehadiran dan kuasa Roh Kudus dengan kejadian-kejadian yang menakjubkan dan spektakuler.
Kita lupa bahwa tak lama setelah peristiwa Pentakosta itu, para pengikut Kristus yang telah diurapi Roh Kudus ditolak, dicampakkan, dipenjarakan, bahkan dihukum mati! Namun karena itulah, mereka menjadi saksi Kristus yang luar biasa!
Kehadiran dan kuasa Roh Kudus dapat terlihat nyata dalam diri seorang penginjil yang dinamis, yang mampu menarik perhatian para pendengarnya.
Namun hal itu juga tampak nyata dalam diri sukarelawan yang melakukan pelayanan pribadi terhadap satu per satu narapidana di penjara, dalam diri mereka yang bersaksi kepada rekan kerja ataupun tetangga, dan dalam diri guru Sekolah Minggu yang setia mengajar setiap minggu.
Kuasa Roh Kudus tidak hanya disediakan bagi mereka yang bertalenta banyak, tetapi juga bagi semua orang percaya dalam Kristus yang ingin melayani-Nya.
MANIFESTASI KEMULIAAN-NYA DALAM PELAYANAN ADALAH KTA MENGALAMI KEPENUHAN ROH KUDUS
Reinhard Samah Kansil, M.Th





0 Comments