Shalom rekan-rekan alumni Kristen UGM di manapun berada, kiranya rekan-rekan senantiasa sehat dan menekuni setiap penggilan Tuhan dengan tekun dan setia sehingga kehidupan kita senantiasa menjadi berkat bagi sesama. Profil alumni kali ini kami ingin memperkenalkan yang berasal dari fakultas Farmasi UGM bernama P.E. Wardani yang lulus pada tahun 1993, kemudian melanjutkan kuliah S-2 di Magister Bisnis Administrasi ITB tahun 2005 dan saat di engah-tengah pekerjaan juga sedang menempuh Pendidikan M.Min Marketplace memasuki semester empat di Selolah Tinggi Teologia Bandung (STTB). Mbak Danik, begitu rekan-rekan alumni memanggilnya berdomisili di Jakarta memiliki suami yaitu Didik Bintoro Cahyo dan Tuhan mengarunikan kepada mereka anak-anak yang sudah dewasa yaitu Gloria Andida Cahya dan Timothy Chaya Andika.
My Story


Mengikuti seminar dan membaca buku “Vision of Vocation” karangan Steven Garber menolong saya untuk merumuskan vocational call saya sebagai: “Apapun vokasi kita, dengan cara kita sendiri, kita bertanggung jawab atas nama kasih bagi dunia yang sekarang ini, Kita dipanggil untuk menjadi anugerah umum bagi kebaikan bersama”.
Sedangkan prinsip Vokasi: Menyampaikan stories tentang “pemahaman terdalam akan Allah dan karya-Nya dalam bahasa yang bisa dimengerti dunia, melalui pekerjaan baik yang telah dipersiapkan Allah untuk kita
Saya pernah merasa salah masuk jurusan saat kuliah di Farmasi, namun dalam rancangan Tuhan, menjadi Apoteker, diperlengkapi dengan passion di bidang management & leadership membawa saya ke dunia profesi yang sangat menyenangkan.
Jatuh cinta dengan pelayanan rumah sakit saat PKL, bekerja di rumah sakit selama 23,5 tahun dan saat ini di berkarir PT Multi Sinar Adamar, saya bersama owner membangun perusahaan yang melayani proses digitalisasi pelayanan farmasi di rumah sakit. Dalam waktu hampir 9 tahun sejak bergabung di PT MSA (2016), 11 tahun sejak automated dispensing machine pertama untuk pelayanan farmasi rawat jalan di Indonesia diinstal di RS Bethesda (2014), dan 17 tahun sejak saya melihat mesin ini di Melbourne (2008), gulungan bola salju menuju tercapainya visi saya makin terlihat.
Saya bersyukur dalam proses membangun diri mengerjakan pekerjaan baik yang Tuhan siapkan, saya memiliki mentor yang mendidik saya dengan keras. Saat itu, tidak jarang saya mengeluh dan menangis, namun demikian, saat melihat ke belakang, saya bersyukur untuk proses ini.


Saat ini, perspektif kehidupan saya sedang ”digoncang” melalui berbagai mata kuliah yang saya dapatkan di program M.Min Marketplace STTB. Saya dibawa pada tantangan “Misi Integral” para pengikut Kristus dalam mempersiapkan kedatangan-Nya yang ke-2 melalui vokasi saya. Abraham dipanggil saat berusia 75 tahun, Musa 80 tahun, jadi saya belum terlalu tua tampaknya dimata Tuhan untuk bermisi. Let’s see.
My Values
”Apa pun juga yang kamu perbuat, perbuatlah dengan segenap hatimu seperti untuk Tuhan dan bukan untuk manusia” (Kol 3:23)
Genogram saya menyatakan bahwa saya adalah keturunan entrepreneur dan pekerja keras. Meski saya lebih memilih jalur sebagai intrapreneur, tetapi semangat untuk bekerja keras demi mencapai hasil maksimal saya peroleh dari prinsip utama saya yang tertulis di Kol 3:23. Ya karena Tuhan sudah melakukan yang terbaik dalam hidup saya, dengan memilih dan memanggil saya menjadi anak-Nya.
Meskipun sebagai anak-anak-Nya kita sudah berusaha memberikan yang terbaik, bukan berarti kita sudah baik. Sangat penting menjaga sikap hati dan kesadaran bahwa saya, kita adalah manusia berdosa. Hal ini akan menolong kita untuk senantiasa rendah hati dihadapan Tuhan dan sesama. Hidup kita adalah perjuangan untuk mempersembahkan persembahan hidup yang berkenan kepada-Nya
Dalam usia yang makin matang, satu perkara baru yang saya dapatkan adalah pentingnya memelihara Sabat. Kita bekerja selama 6 hari dan pada hari ke-7, seperti Allah, kita perlu berhenti untuk menghormati Dia, dan segala keindahan ciptaan-Nya. Keseimbangan ini yang ingin terutama saya bagikan dalam tulisan ini, setelah saya mengalami berbagai dinamika kehidupan. Kehidupan yang terbaik adalah saat kita menikmati ketenangan dalam gemuruhnya hembusan angin/badai. Imanuel
My Prayer
Jakarta, dimana saya tinggal saat ini sangat berbeda dengan kota Yogyakarta dimana saya dibesarkan dan menghabiskan sebagian besar hidup saya. Lingkungan membuat saya kehilangan kesempatan untuk ”melayani”. Oleh karena itu saya selalu bertanya kepada Tuhan, apakah pekerjaan ini akan menjauhkan saya atau justru mendekatkan saya kepada Tuhan. Adakah pekerjaan baik lain yang Tuhan sudah siapkan bagi saya, bagi kami (dengan suami)? Pada waktu-Nya Dia akan menjawab.





0 Comments