Perspektif: Memaknai Pekerjaan sebagai Misi Allah

by | Sep 26, 2025 | Perspektif | 0 comments

Oleh: Dr. Candra Nugraha Wati, S.Si., M.Pd.*

Pekerjaan sering dipandang sebatas mencari nafkah dan mengejar karier untuk memenuhi kebutuhan hidup manusia. Menurut teori Abraham Maslow, kebutuhan manusia fisiologis, rasa aman, cinta, penghargaan, dan aktualisasi diri. Kelima kebutuhan tersebut memberikan motivasi kerja seseorang untuk bekerja dengan baik supaya kebutuhannya terpenuhi dan merasakan kepuasan. Bagaimana dengan pandangan orang-orang percaya di dalam Kristus?

Bagi orang percaya, pekerjaan memiliki makna yang lebih mendalam, yaitu sebuah panggilan untuk mengerjakan misi Allah. Pekerjaan bukan sekadar aktivitas memenuhi kebutuhan diri sendiri, melainkan bagian dari misi Allah di tengah dunia yang telah jatuh dalam dosa. Dari sejak awal dunia dijadikan, manusia diciptakan Allah untuk bekerja, yaitu untuk mengusahakan dan memelihara taman Eden (Kejadian 2:15). Ayat ini menggambarkan bahwa dari sejak semula desain manusia adalah bekerja untuk Allah dan menjadi rekan kerja dalam mengelola bumi ini. Dengan demikian, pekerjaan dipandang sebagai cara untuk melayani Allah dengan kemampuan yang telah Allah anugerahkan bagi orang-orang percaya. Dengan menghayati makna bekerja dalam kehidupan orang percaya, maka setiap profesi apapun dapat menjadi ladang misi di mana kita menghadirkan Shallom.

Pekerjaan apapun yang kita jalani saat ini bukanlah suatu kebetulan, Tuhan telah menempatkan kita sesuai dengan maksud dan tujuanNya. Firman Tuhan dalam Efesus 2:10 menyatakan bahwa kita ini buatan Allah diciptakan dalam Kristus Yesus untuk melakukan pekerjaan baik, yang dipersiapkan Allah sebelumnya dan Ia mau supaya kita hidup di dalamnya. Ayat ini menegaskan bahwa kita yang sudah menerima anugerah keselamatan melalui iman di dalam Tuhan Yesus Kristus, dipersiapkan Allah untuk melakukan pekerjaan yang baik. Allah ingin kita hidup di dalamnya, yaitu melakukan pekerjaan baik.

Pekerjaan adalah kesempatan bagi kita untuk berkarya dalam rangka mengerjakan misi Allah bagi dunia ini. Sebagai murid Kristus, kita diutus untuk menjadi saksi Kristus, menjadi garam dan terang yang membawa dampak bagi lingkungan dimanapun kita berada, termasuk dalam lingkungan pekerjaan kita. Kita dipangggil menjadi pekerja yang menghidupi nilai-nilai Kristiani untuk membawa daya tarik bagi orang-orang di sekitar kita agar mengenal Kristus.

Dalam hidup kita, kita menghabiskan waktu minimal 8 jam di tempat kerja. Hal ini merupakan kesempatan yang berharga bagi kita untuk menjadi berkat dan saksi Kristus di tempat kerja kita serta memberikan kontribusi bagi kesejahteraan umat manusia. Kita menjadi saksi Kristus dan berkat dari cara kita bekerja atau berperilaku, sikap kita dalam pekerjaan, cara kita berpikir, bertindak, dan kualitas dari pekerjaan kita. Kita mengerjakan yang terbaik dari apa yang menjadi tanggungjawab kita dan memaksimalkan kompetensi yang kita miliki sebagai wujud melayani Allah dan sesama. Seperti yang dinyatakan dalam Kolose 3:23 bahwa melakukan segala sesuatu dengan segenap hati untuk Tuhan.

Sejalan dengan hal itu, Tim Keller dalam bukunya yang berjudul “ Apakah Pekerjaan Anda Bagian dari Pekerjaan Allah” memberikan pertanyaan yang menarik untuk kita renungkan, yaitu “ Bagaimana caranya, dengan kemampuan-kemampuan dan kesempatan-kesempatan yang saya miliki, saya bisa memberi pelayanan yang terbesar bagi Allah  dan sesama?”. Pertanyaan ini menegaskan bahwa pekerjaan yang kita lakukan adalah panggilan Allah untuk melayani Allah dan sesama dengan kemampuan yang Allah anugerahkan. Pada akhirnya, pekerjaan yang Allah percayakan saat ini adalah ladang misi untuk menghadirkan shallom dan kerajaan Allah di tengah dunia.

* Dr. Candra Nugraha Wati, S.Si., M.Pd. adalah alumnus Fakultas Biologi Universitas Gadjah Mada angkatan 2001, saat ini menjadi dosen di STT Baptis Kalvari.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

ARTIKEL

Perspektif Lainnya

Perspektif: Menjaga Kerohanian Tetap Segar di Tengah Kebisingan Dunia

Perspektif: Menjaga Kerohanian Tetap Segar di Tengah Kebisingan Dunia

(Naomi Fortuna Kaber, ST., MCM.) Pengantar Dulu waktu mahasiswa, mungkin banyak alumni yang masih senang dengan kegiatan membaca Alkitab, berdoa, persekutuan dan pelayanan. Namun ketika memasuki dunia alumni, prioritas mereka bisa berubah. Tetapi selalu ada cara Tuhan...