(Oleh: Ev. Ajeng Chrissaningrum S.Psi, M.Th)*
Tetapi semua orang yang menerima Dia, diberi-Nya hak untuk menjadi anak-anak Allah. Yang harus mereka lakukan hanyalah percaya bahwa Ia berkuasa menyelamatkan mereka. Semua orang yang percaya akan dilahirkan kembali! Tetapi bukan kelahiran jasmani, sebagai hasil dari nafsu atau rencana manusia, melainkan karena kehendak Allah. – Yohanes 1:12-13, FAYH.
Setiap orang pernah menjadi anak. Namun, pengalaman sebagai anak tidak selalu menyenangkan. Idealnya, seorang anak dikasihi, mengenal hati, dan bertumbuh di dalam kasih. Kenyataannya, kekerasan dari lingkungan, pengabaian orang tua, dan pola asuh yang keliru membuat hati anak luka. Anak yang terluka akan membawa ingatan akan pengalaman luka ini di dalam hati saat beranjak dewasa. Ingatan ini mengurungnya untuk terus bertumbuh. Orang-orang yang terkurung ingatan luka menunjukkan perilaku kekanak-kanakan, egosentris, merasa tidak aman, tinggi hati, haus pengakuan, selalu ingin diingini orang lain, sulit mengasihi, dan sederet perilaku lain yang menandakan hambatan pertumbuhan.
Terkurung: tidak merdeka bertumbuh ke arah keserupaan dengan Kristus. Pola-pola perilaku lama dipertahankan, karena merasa itu adalah kewajaran atau bagian dari jati diri.
Terkurung: penipuan. Kita sudah dilahirkan kembali karena kehendak Allah. Pola perilaku salah yang diturunkan dari orangtua ataupun pengalaman pahit karena pengasuhan yang keliru, kekerasan, dan pengabaian di masa lalu tidak lagi membelenggu kita untuk mengasihi Kristus dan sesama, karena saat kita dilahirkan kembali di dalam Kristus kita juga mengalami pembaruan hati oleh Roh Kudus. Mengapa ada orang yang mengaku percaya Yesus namun masih terkurung? Karena belum mengalami Injil sampai ke hati.
Percaya berarti menerima. Percaya bukan sekadar setuju dengan fakta-fakta tentang Yesus, tetapi juga membuka hati untuk menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat dan menerima pengajaran-Nya sebagai kebenaran. Luka hati yang tidak diselesaikan dapat membuat kita menjadi sok kuat dan sok benar. Kita merasa tidak membutuhkan pertolongan dari orang lain, dan berusaha hidup dengan kekuatan sendiri. Menerima Yesus seutuhnya berarti kita harus mengakui dan menerima keadaan diri yang lemah dan rapuh, tidak sempurna dan berdosa, dan membutuhkan Juruselamat.
Apabila kita menerima pengajaran Yesus sebagai kebenaran, kita harus meruntuhkan benteng-benteng pertahanan diri yang kita bangun untuk melindungi lemahnya hati dan membenarkan diri sendiri. Luka hati menimbulkan banyak keinginan diri yang dibalut dengan pembenaran diri. Kita merasa benar dalam berperilaku, walaupun itu tidak mengasihi. Menyerahkan luka dan merobohkan benteng pertahanan diri adalah kerendahan hati di depan Yesus. Percaya dan menerima Yesus berarti kita mati terhadap sikap hati yang berdosa dan tidak mau disalahkan.
Hidup sebagai anak-anak Allah. Kristus memberi kita hak untuk menjadi anak-anak Allah. Eksistensi baru kita setelah dilahirkan kembali adalah anak-anak Allah. Salah satu hak sebagai anak-anak Allah adalah menikmati persekutuan pribadi kepada Allah sebagai Bapa yang mengasihi kita. Karena Dia mengenal hati kita, kita dapat datang dan mencurahkan isi hati kita kepada-Nya.
Luka hati? Datang pada Bapa, Dia sanggup memulihkan dengan kasih yang sempurna.
Sedih? Datang pada Bapa, Dia menghibur.
Sulit bertumbuh? Berdoa pada Bapa, Dia menuntun dengan Roh-Nya.
Sisi lain dari hak sebagai anak-anak Allah adalah kemerdekaan untuk senantiasa menaati Bapa. Kita bukan lagi anak si A dan B yang terikat dengan pola perilaku yang diturunkan dari generasi sebelumnya. Di tengah penderitaan dan tekanan, kita adalah anak-anak Allah Bapa yang Dia kasihi dan yang merdeka untuk mengasihi. Bapa mengampuni, maka anak-anak-Nya pun mengampuni. Bapa bermurah hati, anak-anak-Nya pun bermurah hati.
Injil membebaskan kita dari kurungan yang ada di hati, sehingga kita merdeka menjadi anak yang dikasihi dan mengasihi. Di dalam Kristus, keanakan kita pulih. Injil yang terpancar dari hati yang pulih akan memuliakan Allah.
*Ev. Ajeng Chrissaningrum, S.Psi, M.Th., adalah alumna fakultas Psikologi UGM angkatan 2001, tinggal di Yogyakarta.





0 Comments