Rindu Membagikan Injil
Nama saya Mening Nindya Arimami, biasa dipanggil Mening. Saya merupakan alumni Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik (FISIPOL) UGM angkatan 2013, dan saat ini bekerja sebagai pegawai di salah satu perusahaan BUMN yang bergerak di bidang pertanggungan risiko.
Saya lahir di keluarga Kristen, namun tumbuh dalam keadaan fatherless. Hubungan saya dengan orang tua, khususnya dengan ayah, tidak berjalan baik. Hal itu sempat memengaruhi cara saya memandang Allah sebagai Bapa. Namun, ada satu waktu dalam hidup saya ketika saya “bertemu” dengan Tuhan secara pribadi — saat saya menerima Yesus sebagai Tuhan dan Juruselamat pribadi dan dilayakkan untuk memanggil Bapa. Sejak saat itu hidup saya diubahkan. Saya mengalami damai sejahtera dan sukacita yang tidak terbendung, yang kemudian mendorong saya untuk terus menyaksikan apa yang saya alami dan rasakan melalui pengabaran Injil.
Sejak dulu, saya diajarkan untuk selalu bersandar pada Firman Tuhan. Di tengah banyaknya pengajaran dan doktrin yang terkadang saling bertabrakan, saya semakin menyadari pentingnya bergantung sepenuhnya pada kebenaran Firman Tuhan sebagai satu-satunya filter bagi setiap ajaran yang kita dengar.
Kehidupan saya tidak selalu berjalan sesuai rencana. Ada masa-masa di mana api pelayanan saya meredup, bahkan saya sempat mempertanyakan keselamatan saya sendiri karena ada banyak hal buruk dan dosa yang terus menerus saya lakukan. Namun, Tuhan Yesus begitu baik. Dalam kasih-Nya, Ia memanggil saya kembali dan meneguhkan hati saya melalui Roma 4:7–8 — “ Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya dan yang dosa-dosanya ditutupi; berbahagialah orang yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan kepadanya. ” — serta Mazmur 32:1–2 — “Berbahagialah orang yang diampuni pelanggarannya, yang dosanya ditutupi! Berbahagialah manusia yang kesalahannya tidak diperhitungkan Tuhan, dan yang tidak berjiwa penipu! ”. Benar bahwa selama kita hidup di dunia ini, masih memungkinkan melakukan berbagai pelanggaran dan kesalahan. Benar bahwa kita lemah, namun saya terlebih mempercayai bahwa Yesus telah mati bagi setiap pelanggaran kita: masa lalu, masa sekarang bahkan masa depan, dan kita yang telah menerimaNya adalah ciptaan yang baru (2 Korintus 5:17). Ada identitas baru yang sudah Tuhan berikan. Bukan karena kita layak, namun karena Kasih KaruniaNya saja.
Sejak hari itu, saya kembali berpegang teguh pada kebenaran Injil yang memerdekakan — Injil yang bukan hanya layak untuk dipercaya, tetapi juga dinikmati setiap hari. Saya rindu untuk terus membagikan Injil itu kepada orang lain melalui kesaksian dan cara hidup yang berkenan di hadapan Tuhan.






0 Comments