(Ir. Theo Sestu Nugroho, CHRM, CPHRM, CNHRP, CPS*)
“Sebab Dia yang telah meneguhkan kami bersama-sama dengan kamu di dalam Kristus, adalah Allah yang telah mengurapi, memeteraikan tanda milik-Nya atas kita dan yang memberikan Roh Kudus di dalam hati kita sebagai jaminan dari semua yang telah disediakan untuk kita.” [2 Korintus 1:21-22]
Setiap kita mengenal yang namanya meterai. Sebagai penanda keabsahan dan legalitas, meterai juga menunjukkan kepada siapa orang bertanggung jawab terhadap apa. Surat perjanjian akan disebut berharga bila tercantum meterai yang di bawahnya dilengkapi tanda tangan si penanggung jawab. Meterai sebagai bukti penyerta legalitas, dikeluarkan secara resmi oleh pemerintah atau negara yang berlandaskan hukum sehingga keberadaannya menjamin keabsahan dokumen.
Orang Kristen yang adalah pengikut Kristus dimeteraikan oleh Roh Kudus, yang adalah Pribadi Allah sendiri, sebagai penanda keabsahan kita sebagai milik Allah dan penerima keselamatan (2 Kor 1:21-22; Efesus 1:13). Dengan demikian tidak perlu diragukan bahwa kita yang sudah dimeteraikan oleh Roh Kudus adalah warga Kerajaan Allah [Efesus 2:18-19]. Terpujilah Tuhan!
Eksistensi Roh Kudus di dalam kehidupan orang percaya seharusnya selalu terjaga dan tampak di setiap segi kehidupan karena Allah selalu bersama kita, sementara orang lain, hidup tanpa Allah [Efesus 2:12]. Inilah beda hidup orang percaya sebagai Pengikut Kristus dengan orang-orang di luar Kristus. Ingat, kita hidup bersama Allah, ada Allah, sedangkan ‘mereka’ tidak. Artinya, hidup kita adalah milik dan bagi Allah, sementara ‘mereka’ tidaklah demikian; lahir sebagai manusia yang hidup tanpa Allah, dan matipun tanpa Allah. Lantas bagaimana kita harus hidup?
Saudara yang dikasihi Tuhan Yesus, beberapa hal berikut akan menjadi gambaran bagaimana kita harus berperilaku dalam berbagai aspek kehidupan.
- Sebagai orang yang sudah memakai meterai Ilahi dan yang dipercaya oleh Yang memberikannya, kita mesti menjaga kepercayaan itu. Kita harus menjaga nama dan martabat Sang Pemberi Meterai, menaati segala perjanjian yang tercantum dalam Alkitab serta melakukan apa yang tertulis di dalamnya. “Barangsiapa setia, baginya tersedia mahkota kehidupan” (Wahyu 2:10b). Keteladanan hidup menjadi wujud implementasi bagaimana kita menjaga secara utuh kepercayaan itu.
- Merasakan manfaat berjalan di dalam perjanjian-Nya yang kekal dan menikmati penyertaan-Nya yang sempurna. Tantangan hidup silih berganti hadir menerjang kehidupan orang percaya, dan ini merupakan dasar kita bermegah dalam penyertaan-Nya (Roma 5:3). Pasang surutnya hidup menjadi jalan yang mendatangkan kemuliaan ilahi bagi hidup orang percaya. Suatu kali kami sekeluarga diijinkan berada di dalam lembah kekelaman yang sangat menyakitkan. Sebagai manusia, adalah hal yang lumrah jika kami meronta dan kesakitan. Namun kemudian dengan segera,… sekali lagi, dengan segera Roh Sang Meterai mengingatkan bahwa saya tidak sendiri dan bahwa kami hidup bersama Tuhan. Lantunan pujian yang mengagungkan nama-Nya menggantikan semua keluh dan kesah. Pada akhirnya kami mendapatkan pertolongan-Nya dengan cara yang ajaib, hadir mengakhiri kekelaman.
- Menjadi pewarta resmi atau agen resmi kasih karunia Allah, yaitu keselamatan di dalam Tuhan Yesus Kristus bagi semua manusia (Kisah 1:8, 1 Korintus 9:16). Membuka jaringan dan cabang penyelamatan manusia, kira-kira demikian yang dimaksudkan. Ini dimulai dari memantapkan diri kita sendiri, keluarga, istri dan anak-anak, sehinggga orang-orang di sekitar kita dapat melihat pancaran legalitas surgawi dari hidup kita. Patutlah kita mempertanyakan hal ini setiap hari sebelum kita beraktivitas: siapa lagi yang akan kita tarik menjadi agen resmi Yesus Kristus? Siapakah yang akan dimeteraikan secara resmi di hadapan Kristus?
- Tetap yakin dan percaya bahwa Dia tidak akan meninggalkan umat-Nya (Ibrani 13:5b). Meyakini hidup dalam meterai Allah menjadi sangat penting untuk menjaga kestabilan iman kita. Goncangan dalam perjalanan tidak akan terasa saat kita berada di atas mobil super mewah, meski jalanan banyak yang berlubang dan rusak. Semakin kita paham dan belajar hidup bersama-Nya, semakin ringan berat tantangan yang kita jalani. Dia yang selalu hadir, sudah menyediakan solusi pada setiap persoalan (1 Korintus 10:13).
- Dialah jaminan yang menjadi kurir pengantar nyawa orang percaya saat kesudahan tiba. Sering kita mendengar ketika seorang Kristen wafat, ia disebut “telah dipanggil pulang ke rumah Bapa di Sorga.” Itu tidak salah. Namun yang patut disadari adalah dengan siapa orang Kristen datang menjawab panggilan itu? Sendirikah? Ada yang mengatakan “dijemput Tuhan Yesus.” Benarkah? Tuhan Yesus bertugas menyediakan tempat bagi kita (Yohanes 14:2). Roh Kuduslah, yang bersemayam di dalam hidup orang percaya, yang “menggandeng” tangan orang percaya ke hadapan Bapa di Surga mulia. Sebab Dia, Allah Roh Kudus, Sang Meterai itu, selalu ada dalam hidup orang percaya, tidak akan meninggalkan kita sampai selamanya hingga kesudahan zaman tiba (Yohanes 14:16).
Jadi saudara, kita patut bersyukur bahwa meterai yang Tuhan berikan kepada kita bukan saja berguna sebagai Penanda Ilahi, sah milik Allah, namun sekaligus menjadi Penolong, Kawan Setia dalam suka maupun duka, dan juga Pengantar nyawa saat semua sudah selesai. Tanggung jawab kita sebagai orang percaya adalah melakukan apa yang menjadi kehendak-Nya dan menjaga kekudusan hidup kita agar Dia selalu bertahta di dalam hati dan hidup kita. Amin.
*Ir. Theo Sestu Nugroho, CHRM, CPHRM, CNHRP, CPS adalah alumni Fakultas Peternakan UGM saat ini tinggal di kota Semarang.





0 Comments