Hidup Dalam Didikan Tuhan

by | Mar 4, 2024 | Renungan | 0 comments

Amsal 3:11-15

Semua orang tua tentu menginginkan anaknya memperoleh pendidikan yang terbaik; mengenyam pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi yang terbaik, dididik oleh guru atau dosen yang terbaik sehingga anaknya memperoleh kualitas pendidikan yang terbaik. Seorang pendidik yang baik tentu diyakini memiliki ilmu yang diperoleh dari sumber yang baik dan mampu menerapkan metode pembelajaran yang tepat sehingga anak didik akan terdidik baik secara afektif, kognitif, maupun psikomotorik. Peserta didik yang dididik dengan pendidikan yang baik tentu akan menjadi pribadi-pribadi yang baik pula. Mereka akan memiliki bekal ilmu yang memadai serta memiliki kepribadian yang baik sehingga mampu membangun kehidupan yang lebih baik. Tentu saja hasil yang terbaik dalam pendidikan akan dihasilkan bila ada relasi yang baik antara pendidik dan peserta didik. Pendidik mendidik dengan penuh kasih sayang dan peserta didik memiliki keterbukaan untuk menerima didikan dan kerelaan untuk belajar dari pendidik; rela dididik sesuai dengan cara pendidik.

Salomo, penulis amsal, berharap agar anaknya mau dididik oleh Tuhan. Ia meyakini bahwa Tuhan selalu menginginkan yang terbaik untuk umat-Nya. Tuhan adalah pendidik yang terbaik. Terkadang, Ia mengijinkan kita mengalami pencobaan dan kesulitan hidup supaya kita hidup sesuai dengan kekudusan dan kehendak-Nya. Bila kita lalai melakukan sesuatu dan menyimpang dari jalan Tuhan, kita akan mengalami sesuatu yang mungkin merupakan peringatan dari Tuhan, agar kita menjadi sadar dan kembali ke jalanNya. Ini menunjukkan kalau Tuhan begitu mengasihi dan memperhatikan kita. Masalah atau beban hidup menjadi semacam ujian dalam proses belajar. Lingkungan seringkali menyeret kita pada arus yang bertentangan dengan kehendak Tuhan. Namun, penyerahan diri pada penyertaan dan perlindungan Tuhan menjadi dasar bagi kita untuk melawan arus dunia dan tetap berjalan di jalan Tuhan. Tuhan, sumber kebijaksanaan, pengertian, dan pengetahuan memampukan kita bersikap bijaksana dalam mengambil keputusan agar sesuai dengan maksud dan kehendak-Nya untuk mendatangkan kebahagiaan serta kesejahteraan. Ia memberikan keamanan karena Ia menjaga kita untuk tetap berjalan dalam kehendak-Nya yang mendatangkan damai sejahtera. Tuhan tidak akan membiarkan orang yang mengandalkan Dia terjebak dalam perangkap-perangkap yang dipasang oleh musuh. Hidup akan jauh lebih baik bila umat mau hidup sesuai dengan kehendak dan terminologi Tuhan. Salomo menggambarkan bahwa keuntungannya melebihi keuntungan perak dan  emas serta lebih berharga daripada permata. Itulah yang dirindukan Tuhan, yaitu kita memperoleh kesempurnaan keselamatan. Tentu saja itu tidak akan terwujud bila kita menolak didikan Tuhan. Kegagalan kita memperoleh kesempurnaan keselamatan terjadi bila kita hanya mau hidup sesuai dengan keinginan dan cara hidup kita sendiri. Kita enggan dididik oleh Tuhan dan dengan cara Tuhan.

Bersyukurlah bila Tuhan berkenan mendidik kita. Itu menjadi bukti bahwa Ia sangat mengasihi dan memperhatikan kita. Relakanlah diri kita dididik oleh Tuhan. Hiduplah  seturut dengan rencana, kehendak, dan terminologi Tuhan. Ia akan memampukan kita bersikap bijaksana dalam mengambil keputusan, dan menuntun kita agar tetap berjalan dalam kehendak-Nya. Andalkanlah Tuhan di sepanjang hidup kita. Dia akan memberikan keamanan dan senantiasa menjaga kita. Sama seperti pendidik yang akan merasakan kebahagiaan menyaksikan anak didiknya berhasil, begitu pun Tuhan; Ia tentu juga akan senang bila kita mencapai kesempurnaan keselamatan dan kebahagiaan. Selamat hidup dan relakan diri dididik oleh Tuhan. Soli Deo Gloria. (Chr).

Penulis: Pdt. Christiana Riyadi

Alumni Jurusan Ilmu Pemerintahan FISIPOL Angkatan 1990.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RENUNGAN

RENUNGAN Lainnya

APAKAH YANG ENGKAU MAU? TEGUHKANLAH HATIMU!

APAKAH YANG ENGKAU MAU? TEGUHKANLAH HATIMU!

(Markus 10:46–52) Oleh: Pdt. Setyo Pranowo, S.Si.Teol.* Bartimeus adalah seorang penyandang disabilitas dalam penglihatan. Ia buta. Untuk menyambung hidupnya, ia melakukan pekerjaan sebagai pengemis dengan duduk di pinggir jalan dan menanti kemurahan hati orang-orang...

Aku tadinya… dan sekarang…

Aku tadinya… dan sekarang…

(Oleh: Dwi Prasetyo Rahardjo, S.P., C.PI –  Alumni Fak. Pertanian UGM) Bacaan: Yohanes 9: 1 - 41 Jawabnya: "Apakah orang itu orang berdosa, aku tidak tahu; tetapi satu hal aku tahu, yaitu bahwa aku tadinya buta, dan sekarang dapat melihat" (Yohanes 9:25) Ada perubahan...