Menjadi Hati Dan Tangan Kristus

by | Dec 5, 2023 | Renungan | 0 comments

Oleh: Ir. Winfrid Prayogi, M.Th.

Karena Anak Manusia juga datang bukan untuk dilayani, melainkan untuk melayani dan untuk memberikan nyawa-Nya menjadi tebusan bagi banyak orang (Mark 10:45)

Kedatangan Kristus ke dunia adalah peristiwa yang sangat mengagumkan. Allah yang Roh dan penuh dengan kemuliaan, rela menjadi manusia, agar kita – manusia berdosa – dimungkinkan untuk melihat Allah, mengenal isi hati Allah, yang tidak ingin manusia binasa melainkan beroleh hidup yang kekal. Kristus datang agar kita yang memberontak dan menjadi musuh Allah dapat ditebus Kristus dan menjadi anak Allah, sahabat Allah.

Saat Kristus datang ke dunia 2000 tahun yang lalu. Dunia yang tidak mengenal-Nya menolak-Nya. Hanya tersedia palungan di kandang binatang untuk Sang Bayi itu terbaring. Kontras dengan suasana di Surga. Seorang malaikat Tuhan di utus kepada beberapa gembala di padang Efrata agar mereka tidak tidur terlelap, namun bangun untuk mendengar berita sukacita yang disampaikan malaikat Tuhan. “Telah lahir Juruslamat, yaitu Kristus Tuhan di kota Daud”. Tiba-tiba gembala melihat langit terbuka menampakkan suasana sorga. Sejumlah besar bala tentara sorga memuji Allah: “Kemuliaan bagi Allah di tempat yang mahatinggi dan damaisejahtera di bumi”. Melalui kedatangan, kematian dan kebangkitan Kristus, permusuhan Allah yang kudus di sorga dan manusia berdosa di bumi, telah diperdamaikan. Bala tentara di Surga menaruh segenap hormat dan pujian, ketika Raja-Nya yang Mahamulia, datang ke dunia yang berdosa, memulai misi penebusan dan penyelamatan dunia yang begitu dikasihi-Nya.

Kristus datang karena diutus oleh Allah Bapa. Misi-Nya sangat jelas dipahamiNya, Ia datang untuk mati. Kalau Kristus tetap sebagai Allah yang adalah Roh, Ia tak mungkin mati. Kristus harus menjadi manusia. Agar tubuh manusia Kristus dapat mati, menerima hukuman dosa manusia umat pilihan-Nya. Rasul Paulus dengan amat jelas menyatakan hal ini: “Ia mengosongkan diri-Nya sendiri, dan mengambil rupa seorang hamba, dan menjadi sama dengan manusia. Dan dalam keadaan sebagai manusia, Ia telah merendahkan diri-Nya dan taat sampai mati, bahkan sampai mati di kayu salib”. (Fil 2:6-9). Kasih dan kerendahan hati Kristus yang begitu mentakjubkan telah dinyatakan pada dunia yang sangat tidak layak untuk memahami dan menerima Anugrah Agung ini.

Pikiran dan perasaan Kristus yang ditunjukkan saat peristiwa kedatangan Kristus yang pertama ini, yang Rasul Paulus (Fil 2:5) inginkan agar kita taruh dalam pikiran dan perasaan kita, saat kita – alumni Kristiani UGM – menyambut perayaan Natal tahun ini. Natal 2023 ini kita rayakan bersamaan dengan kehadiran Graha Pembinaan Iman Kristen (GPIK) di kampus Almamater kita. Anugrah terindah yang Tuhan nyatakan tiba-tiba ditengah-tengah kesibukan kehidupan kita, sebagai seorang alumni. Selama ini sebagian besar dari kita, sedang tertidur dan terlelap, acuh dan tak peduli dengan pembinaan iman adik-adik mahasiswa, sesama alumni dan dosen kampus yang telah membekali kita ilmu, menjalani panggilan Tuhan di dunia ini.

Hidup dan menjalani kehidupan di dunia ini amat singkat. Bagaimana kita hidup ditentukan oleh pemahaman dan keputusan kita. Apakah kita memahami hidup ini adalah milik kita dan karena itu kita berhak menentukan apa yang akan kita lakukan atau kita memahami bahwa hidup kita telah ditebus. Hidup kita bukan milik kita sendiri. Tapi milik Sang Penebus yaitu Kristus. Sehingga seperti Paulus kita bersaksi: “Kristus telah mati untuk semua orang, supaya mereka yang hidup, tidak lagi hidup untuk dirinya sendiri,  tetapi untuk Dia, yang telah mati  dan telah dibangkitkan untuk mereka” (2 Kor 15:5) dan bertekad : “…. namun aku hidup, tetapi bukan lagi aku sendiri yang hidup, melainkan Kristus yang hidup di dalam aku.  Dan hidupku yang kuhidupi sekarang di dalam daging, adalah hidup oleh iman dalam Anak Allah yang telah mengasihi aku dan menyerahkan diri-Nya untuk aku (Gal 2:19-20)

Dalam konteks kita, kini dan disini, berarti “Menjadi hati dan tangan Kristus” melalui pelayanan yang telah Tuhan sediakan dan hadirkan di kampus tercinta. Supaya melalui kita, yang adalah tubuh Kristus, dunia sekali lagi boleh melihat Kristus, Terang Dunia itu. Mari kita kobarkan semangat dan rapatkan barisan, mewujudkan panggilan kita demi Kristus yang telah datang dan akan datang kembali dengan penuh kemuliaan. Soli Deo Gloria.

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RENUNGAN

RENUNGAN Lainnya

APAKAH YANG ENGKAU MAU? TEGUHKANLAH HATIMU!

APAKAH YANG ENGKAU MAU? TEGUHKANLAH HATIMU!

(Markus 10:46–52) Oleh: Pdt. Setyo Pranowo, S.Si.Teol.* Bartimeus adalah seorang penyandang disabilitas dalam penglihatan. Ia buta. Untuk menyambung hidupnya, ia melakukan pekerjaan sebagai pengemis dengan duduk di pinggir jalan dan menanti kemurahan hati orang-orang...

Hidup Dalam Didikan Tuhan

Hidup Dalam Didikan Tuhan

Amsal 3:11-15 Semua orang tua tentu menginginkan anaknya memperoleh pendidikan yang terbaik; mengenyam pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi yang terbaik, dididik oleh guru atau dosen yang terbaik sehingga anaknya memperoleh kualitas pendidikan yang terbaik....