Renungan : Momentum dan Movement

by | Nov 22, 2023 | Renungan | 0 comments

Oleh : Dr. Ir. Sudi Ariyanto, M.Eng (Alumni Fakultas Teknik UGM).

Tetapi kami terus membangun tembok sampai setengah tinggi dan sampai ujung-ujungnya bertemu, karena seluruh bangsa bekerja dengan segenap hati. (Nehemia 4:6)

Nehemia adalah orang Yahudi yang hidup pada abad ke-5 SM. Saat itu, bangsa Israel telah diasingkan dari tanah air mereka dan tinggal di Babel di bawah kekuasaan asing selama 70 tahun (Yeremia 25:11, 29:10). Peristiwa dalam kitab Nehemia terjadi setelah Kekaisaran Babilonia ditaklukkan oleh Persia di bawah Raja Koresh. Koresh mengeluarkan dekrit yang mengizinkan orang Yahudi buangan untuk kembali ke tanah air mereka dan membangun kembali bait suci di Yerusalem, yang telah dihancurkan oleh orang Babilonia (Ezra 1:1-11). Nehemia sendiri melayani sebagai juru minuman raja Persia Artahsastadi kota Susa (Nehemia 1:11). Nehemia menerima kabar dari saudara-saudaranya yang telah kembali ke Yerusalem tentang keadaan rusaknya tembok dan gerbang kota, dan dia sangat tersentuh oleh pemberitahuan ini (Nehemia 1:2-3). Dia mulai bertindak untuk minta izin kepada raja dan memohon dukungan berupa surat-surat yang diperlukan (Nehemia 2: 1-8). Kitab Nehemia mencatat hal luar biasa tentang seorang pemimpin yang mewujudkan prinsip pergerakan dan momentum. 

Pengabdian Nehemia kepada Allah, ditambah dengan tekadnya yang tak tergoyahkan, memainkan peran penting dalam keberhasilan pembangunan kembali Yerusalem. Melalui teladannya, kita dapat memperoleh wawasan berharga tentang bagaimana gerakan dan momentum dapat mengubah hidup dan komunitas kita. 

Menyadari Perlunya Perubahan:

Ketika Nehemia mendengar tentang keadaan tembok dan gerbang Yerusalem yang rusak, dia tergerak dan bergerak. Dia memahami bahwa perubahan diperlukan untuk kesejahteraan umat Tuhan.

Mengatasi Tantangan:

Nehemia menghadapi penentangan dari musuh yang berusaha mematahkan semangat dan menghalangi pekerjaan. Namun, iman dan tekad Nehemia yang tak tergoyahkan mendorongnya maju. Dia tetap tabah, percaya pada kekuatan Tuhan untuk mengatasi kesulitan.

Memobilisasi Sumber Daya:

Kemampuan Nehemia untuk mengumpulkan orang lain sangat penting untuk proses. Dia mengilhami orang lain dan mendorong orang mengambil peran dalam upaya rekonstruksi. Nehemia memanfaatkan kekuatan momentum kolektif.

Terkait dengan pembangunan sarana pembinaan kerohanian, ada pelajaran yang bisa kita petik dari Nehemia: 

  1. Pembinaan mahasiswa Kristen merupakan suatu hal yang sangat penting, antara lain memperkuat iman, membangun karakter dan menyiapkan mereka untuk menjadi garam dan terang di tempat kerja. Perlu ada pergerakan. Seperti Nehemia, bukan hanya tergerak tetapi bergerak. Gerakan sejati dimulai dengan kemauan untuk bergerak, mulai dari langkah pertama dan terus bekerja menuju transformasi positif, tantangan pasti ada. 
  2. Program pembangunan yang difasilitasi oleh manajemen universitas menghasilkan sebuah momentum. Momentum ini seharusnya bukan hanya menghasilkan tindakan awal yang bergelora, tetapi juga bagaimana mempertahankan tekad dan konsistensi dari waktu ke waktu. Perlu disadari bahwa memanfaatkan momentum ini untuk tujuan jangka panjang tidaklah mudah: diperlukan ketekunan, kebersamaan dan ketahanan dalam menghadapi tantangan yang tidak sedikit dan seringkali berat.

Mari memegang komitmen kita untuk mencapai tujuan. Percayalah kepada Tuhan dan memohon kekuatan dan tuntunan dari-Nya, dalam kondisi biasa saja ataupun saat muncul rintangan. Mari bersama-sama memanfaatkan momentum yang sudah terbuka untuk bergerak. Sekali lagi kita dengarkan nasihat Nehemia: “Jangan kamu takut terhadap mereka! Ingatlah kepada Tuhan yang maha besar dan dahsyat dan berperanglah untuk saudara-saudaramu, untuk anak-anak lelaki dan anak-anak perempuanmu, untuk isterimu dan rumahmu.” (Nehemia 4:14).

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RENUNGAN

RENUNGAN Lainnya

APAKAH YANG ENGKAU MAU? TEGUHKANLAH HATIMU!

APAKAH YANG ENGKAU MAU? TEGUHKANLAH HATIMU!

(Markus 10:46–52) Oleh: Pdt. Setyo Pranowo, S.Si.Teol.* Bartimeus adalah seorang penyandang disabilitas dalam penglihatan. Ia buta. Untuk menyambung hidupnya, ia melakukan pekerjaan sebagai pengemis dengan duduk di pinggir jalan dan menanti kemurahan hati orang-orang...

Hidup Dalam Didikan Tuhan

Hidup Dalam Didikan Tuhan

Amsal 3:11-15 Semua orang tua tentu menginginkan anaknya memperoleh pendidikan yang terbaik; mengenyam pendidikan di sekolah atau perguruan tinggi yang terbaik, dididik oleh guru atau dosen yang terbaik sehingga anaknya memperoleh kualitas pendidikan yang terbaik....