RENUNGAN: STILLE NACHT

by | Dec 17, 2024 | Renungan | 0 comments

(Oleh: Drs. Jusuf Arbianto Tjondrolukito, MA, CLC)*

“Silent night, holy night

All is calm, all is bright

Round yon Virgin, Mother and Child

Holy infant so tender and mild

Sleep in heavenlly peace

Sleep in heavenly peace”

Lagu ini selalu menghiasi setiap perayaan natal yang dilantunkan dengan khidmad oleh semua umat Kristiani di dunia. Kebaktian Natal mencapai puncaknya saat lagu ini dinyanyikan dengan semua lampu dimatikan dan setiap umat memegang lilin kecil yg menyala. Sungguh indah!

Mengapa menjadi ini pujian yang abadi? Padahal kalimatnya amat sederhana, dan hanya memiliki delapan nada.

Lagu Silent Night membawa pesan yang nyata bahwa janji Tuhan akan hadirnya Sang Mesias Juruselamat manusia dan pembawa damai di Bumi telah digenapi dengan lahirnya Yesus Kristus di malam yang sunyi.

Silent Night tercipta melalui tuntunan Tuhan yang misterius dan memiliki sejarah yang unik. Menjelang natal tahun 1818, Josephus Franciscus Mohr yang berusia 26 tahun merasa gelisah karena organ di gereja St Nikola di Oberndorf bei Salzburg, Austria, sudah karatan dan tidak bisa dipakai lagi. Dengan membawa syair yang digubahnya 2 tahun yang lalu, dia mengundang Franz Xaver Gruber untuk mendiskusikannya. Dengan segera Gruber datang membawa gitar, menulis nada untuk gitar, tenor, bariton dan paduan suara anak. Lagu ini pun tercipta dan pertama kali dilantunkan pada malam Natal, 23 Desember 1818 di Oberndorf. Lagu ini kemudian dinyanyikan oleh berbagai grup tour di berbagai pelosok negara Austria.

Namun walau semakin populer, belum ada yang mengaku siapa penggubahnya sampai ketika Raja Prusia Friedrich Wilhelm IV menugaskan pimpinan paduan suara gereja (kappelmeister) memainkan lagu ini dalam acara natal di istana. Kappelmeister lalu menugaskan seorang muridnya ke sekolah Michael di Salzburg untuk mendapatkan salinannya.

Berkat mujizat dan campur tangan Tuhan, murid yang diutusnya ternyata adalah putra dari Franz Gruber dan memberitahu kappelmeister penggubah yang sesungguhnya. Pada tahun 1867 secara resmi dinyatakan bahwa penggubah lagu Stille Nacht adalah Mohr dan Gruber.

Lagu yang digubah di masa kesuraman, wabah, derita kelaparan dan keputus-asaan akibat peperangan yang tengah berkecamuk di Eropa ini, menyadarkan kembali bahwa Yesus Kristus  adalah raja Damai di hari Natal, yakni ketika janji Tuhan digenapi.

Silent Night –

Para penguasa dunia memproklamirkan kemenangannya dengan gegap gempita, dengan parade yang megah meriah , sorak sorai, tarian dan tepuk tangan. Tapi Allah memakai satu malam yang sunyi untuk memberitakan kedatanganNya ke dunia untuk menebus dosa, mengalahkan iblis dan  maut serta mendamaikan diriNya dengan umat manusia. PEACE WITH GOD!

Kedatangan yang ditunggu-tunggu selama berabad-abad ini pun pertama sekali diberitahukan kepada para gembala di padang – kaum yang dianggap rendah dalam tatanan masyarakat – oleh sejumlah besar balatentara surgawi sembari bersorak:”Kemuliaan bagi Allah ditempat yang mahatinggi!”

PEACE ON EARTH!

Para gembala yang semula sangat ketakutan menaati perintah malaikat untuk menemui bayi Yesus di sebuah kandang yang hina. Mereka lalu pulang dengan penuh sukacita memuji dan memuliakan Allah. Berita sukacita ini kemudian disampaikan kepada para intelektual – kaum Majuzi dari Timur.

Dampak dari proklamasi di malam sunyi ini luar biasa: pengikut Kristus di dunia mencapai lebih dari 31% atau sekitar 2,4 milyar peduduk bumi.

Marilah kita memaknai Natal dengan lebih mengenal kehendak Tuhan dan melaksanakannya (Amanat Agung), agar PEACE OF GOD yang telah dicurahkan Roh Kudus dalam hidup kita menjadi berkat bagi sesama.

“Silent night, holy night

Son of God, love’s pure light

Radiant beams from Thy holy face

With the dawn of redeeming grace

Jesus Lord at Thy birth!

Jesus Lord at Thy birth!”

*Drs Jusuf Arbianto Tjondrolukito, MA, CLC adalah alumni Fakultas Ekonomi jurusan Uang&Bank UGM. Gelar Master of Arts in Ministry diperoleh dari STTRII (Sekolah Tinggi Theologia Reformef Injili Indonesia). Saat ini menjadi anggota Dewan Pengawas KKA GAMA

0 Comments

Submit a Comment

Your email address will not be published. Required fields are marked *

RENUNGAN

RENUNGAN Lainnya

RENUNGAN: KEPENUHAN ROH KUDUS

RENUNGAN: KEPENUHAN ROH KUDUS

Kisah Para Rasul 2:1-18 Tiba-tiba turunlah dari langit suatu bunyi seperti tiupan angin keras yang memenuhi seluruh rumah, di mana mereka duduk; dan tampaklah kepada mereka lidah-lidah seperti nyala api yang bertebaran dan hinggap pada mereka masing-masing. Maka...

Terkurung

Terkurung

(Oleh: Ev. Ajeng Chrissaningrum S.Psi, M.Th)* Tetapi semua orang yang menerima Dia, diberi-Nya hak untuk menjadi anak-anak Allah. Yang harus mereka lakukan hanyalah percaya bahwa Ia berkuasa menyelamatkan mereka. Semua orang yang percaya akan dilahirkan kembali!...

Renungan: Yesus, Mesias dan Anak Allah

Renungan: Yesus, Mesias dan Anak Allah

(Oleh : Ir. ES Heru Praptono, MBA)* Bacaan: Yohanes 21 Nats: Yohanes 20:31 tetapi semua yang tercantum di sini telah dicatat, supaya kamu percaya, bahwa Yesuslah Mesias, Anak Allah, dan supaya kamu oleh imanmu memperoleh hidup dalam nama-Nya. Kita baru saja...